Misteri Taman Gantung Babylonia, Benarkah Taman Ini Pernah Ada?

Bagaikan kisah raja India yang membangun Taj Mahal sebagai hadiah untuk sang istri. Begitu pulak dengan taman indah yang masih menjadi misteri. Taman gantung Babilonia yang begitu legendaris, selama ini diketahui terletak di Babilonia atau sekarang bernama Al Hilah Irak.

Keberadaannya yang misterius dan kemegahan yang digambarkan membuat taman gantung ini merupakan satu dari Tujuh keajaiban kuno Dunia. Kejayaan serta kemegahan Babylon menjadi terkenal dan melegenda sejak naik tahtanya Nebuchadnezzar, yang dipercayai sebagai pendiri Taman Bergantung Babylonia.

Disebutkan bahwa taman itu dibangun oleh Nebuchadnezzar untuk menghibur istrinya yang sangat gemar berada di daerah yang dikelilingi oleh pegunungan. Semenjak itulah taman bergantung, satu dari tujuh keajaiban dunia diperkirakan ada.

Benarkah Taman Ini Tergantung Di Langit?

Hanging Garden, dalam bahasa diartikan sebagai Taman Gantung Babilonia, merupakan taman romantis dan puitis dalam sejarah kuno dan memiliki misteri yang menjadi perdebatan sejarawan hingga kini. Kurangnya dokumentasi dalam sejarah Babilonia membuat keraguan tentang taman-taman indah yang pernah menjadi kebanggaan manusia, atau hanya isapan jempol dari penyair kuno dan novelis.

Hanging Garden (Taman Gantung) tidak benar-benar menggantung, Nama Hanging (menggantung) berasal dari kata Yunani “Kremastos” atau kata Latinnya “Pensilis” yang artinya lebih dari sekedar “menggantung” seperti teras atau balkon. Taman itu mungkin dikembangkan seperti struktur Ziggurat dan dibangun dalam bentuk teras tinggi, sehingga Hanging Garden memiliki tingkat tanaman berbeda di setiap lantainya dan berbeda pula di bagian atas taman.

Hanging Garden diduga berada di bagian timur tepi Sungai Efrat, sekitar 31 mil selatan Baghdad. Sebuah teori mengatakan bahwa Hanging Garden dibangun di kota Niniwe, di tepi Sungai Tigris. Ada kemungkinan bahwa lokasi Hanging Garden berada di kota Niniwe sejak artifak di tempat itu jelas menunjukkan adanya taman.

Hanging Garden digambarkan sangat mengesankan tidak hanya memiliki bunga-bunga mekar, pepohonan berbuah matang, memancarkan air terjun, teras yang rimbun dengan banyak dedaunan dan makhluk eksotis.

Arsitek Jerman dan arkeolog Robert Koldewey mengungkapkan semi legendaris Babilonia sebagai realitas geografis dan sejarah, menemukan artifak kubah besar dan lengkungan. Mereka juga menemukan sistem hidrolik kuno seperti gambar pompa air dari sungai.

Menurut sejarawan Yunani Diodorus Siculus, lebar taman ini 400 kaki, panjangnya 400 kaki dan tingginya sekitar 80 kaki. Taman ini berdiri di atas ‘alas’ yang terbuat dari batu bata yang ditutup aspal dan keramik. Berfungsi untuk mencegah masuknya rembesan air ke tanah yang berkemungkinan besar akan mengkorosi fondasi taman.

Sejarah Berdirinya Taman Gantung Babilonia

Menurut catatan sejarah, diceritakan bahwa dinasti pertama dari Babylon didirikan oleh Hammurabi pada masa Neo-Babylonian setelah kehancuran imperium Assyrian. Dan Babylon menjadi salah satu kota terpenting pada zaman Timur Tengah kuno ketika Hammurabi (tahun 1792 sampai dengan 1750 BC) menjadikannya ibukota kerajaan Babylonia.

Secara literature bangsa Babylonia dibangun dengan sangat bagus dan rekaman cuneiform yang berhasil ditemukan menunjukkan agama, peninggalan sejarah dan ilmu pengetahuan sangat berkembang disana. Bermacam obat-obatan, alchemy, kimia, matematika, botany dan astronomi juga dipraktekan disana.

Agama dan tulisan kuno yang berbentuk cuneiform ini berasal dari kebudayaan Sumer yang sangat tua. Bangsa Babylonia juga mengembangkan bentuk abstrak dari tulisan berdasarkan symbol cuneiform (seperti bentuk baji). Symbol ini ditulis di tanah lempung yang basah dan dibakar dibawah terik mentari.

Kisah tentang penciptaan” dari bangsa babylonia ditulis dalam tujuh lembaran tanah liat dan ditampilkan serta dibacakan pada festival tahun baru di Babylon. Dari lembaran-lembaran ini mengisahkan tentang kesuksesan Marduk (Tuhan Kota Babylon), serta bagaimana Marduk bisa menjadi tuhan paling tinggi, yaitu raja semua tuhan yang ada di surga dan bumi.

Dalam hal angka, Bangsa Babylonia mempunyai system angka yang lebih maju dari yang kita miliki saat ini, menggunakan system posisi dengan dasarnya 60(enam puluh). Bangsa ini juga membuat tabel untuk membantu dalam proses perhitungan.

Bangsa Babylonia membagi hari sama seperti yang kita lakukan sekarang ini, yaitu 24 jam dengan 60 menit untuk setiap jam dan setiap menit adalah 60 detik. Adat-istiadat serta kebiasaan bangsa Babylonia ini ikut mempengaruhi bangsa Assyria dan ikut memberikan kontribusi terhadap sejarah Timur Tengah dan Eropa Barat dimasa depan.

Bangsa Babylonia mengalami kemerosotan dan jatuh kedalam anarki sekitar 1180 BC, namun kemudian tumbuh berkembang kembali sebagai Negara bagian dari imperium Assyria sesudah abad ke 9 BC.

Pada 689 BC, akhirnya Babylon dihancurkan oleh bangsa Assyria dibawah kepemimpinan SennaCherib, namun lalu dibangun kembali. Adalah Nabopolassar, mendirikan apa yang sekarang dikenal sebagai Chaldean atau Imperium baru Babylonia pada 625 BC, dimana akhirnya mencapai masa keemasannya dibawah pemerintahan anaknya Nebuchadnezzar.

Kehebatan serta kemegahan Babylion menjadi terkenal dan melegenda sejak naik tahtanya Nebuchadnezzar, dimana dipercaya bahwa dialah pendiri Taman Bergantung Babylonia.

Sejarawan lainnya, Herodotus mengungkapkan, bahwa taman ini terletak di dalam dinding istana yang berlapis emas yang panjangnya mencapai 56 mil. Jalan taman ini sangat lebar hingga memungkinkan bagi kereta yang ditarik empat ekor kuda untuk berputar balik. Disini juga berdiri kuil-kuil pemujaan yang berisi patung dewa dari emas.

Taman ini dibuat bertingkat, lebih tinggi dari bangunan lain di kota Babylon, menimbulkan ilusi ‘tergantung di udara’. Kesan ini makin jelas bila taman dilihat dari balik rumah-rumah penduduk. Semua tanaman akan terlihat menggantung di atas atap perumahan. Inilah sebabnya kenapa taman itu dinamakan taman bergantung.

Taman Gantung Babilonia dibuat atas permintaan Raja Nebukadnezar II sebagai pemberian untuk istrinya yang bernama Amytis. Taman ini dibuat untuk mengobati rasa rindu Ratu Amytis pada kampung halamannya di Pegunungan Persia yang indah. Keberadaan Taman Gantung menunjukan tingginya kekuasaan dan pengaruh kota dan Raja Nebukadnezzar II.

Selain membangun Taman Gantung, dia juga membangun banyak kuil yang indah, jalan-jalan yang lebar, istana dan dinding yang menakjubkan. Menurut perkiraan, taman gantung dibangun untuk menghibur istri sang Raja (Nebukadnezar II) Amyitis rindu kampung halaman. Amyitis, saudara perempuan Raja Medes, Dinikahi Nebukadnezar untuk menciptakan penyatuan antar bangsa.

Kampung halaman tempat permaisuri berasal, tanahnya hijau, rimbun dan bergunung-gunung. Sementara di kota Bobylion dia mendapatkan tanah yang datar, permukaan tanah Mesopotamia yang kering terbakar teriknya matahari, yang membuatnya tertekan. Raja memutuskan membuat tiruan tanah kelahiran permaisuri dengan membangun gunung buatan dengan taman-taman yang berundak-undak.

Dalam literature Babylonia, tidak ditemukan adanya rekaman sejarah tentang taman bergantung dan laporan yang sangat deskriptif berasal dari ahli sejarah bangsa Yunani. Dalam lembaran tanah liat yang berasal dari periode Nebuchadnezzar, deskripsi tentang istananya, kota Babylon dan dindingnya ditemukan, tetapi tidak ada satupun referensi yang ditemukan tentang taman bergantung.

Sampai saat ini, legenda Taman Bergantung masih belum bisa dipastikan kebenarannya dan masih belum bisa dikatakan juga itu hanya dongeng belaka. Archeologist masih sedang berusaha mencari bukti peninggalan zaman Nebuchadnezzar.

Dan bahkan sebagian ahli sejarah percaya bahwa legenda taman bergantung hanyalah cerita campuran tentang taman dan pohon palm di Mesopotamia, istana Nebuchadnezzar, the tower of Babel dan ziggurats yang diceritakan oleh tentara Alexander ketika mereka kembali ke kampung halamannya. Maka dari itu demikianlah ulasan mengenai taman bergantung, sampai jumpa di artikel selanjutnya.

0 Comment